Orang Introvert Menjual (21)
Menjual dengan Mengandalkan Kekuatan Alami Seorang Introvert: Berpikir Analitis (4)
Kekuatan alami yang lain dari seorang introvert adalah kemampuannya berpikir analitis. Hal ini dimungkinkan karena karakter orang introvert yang cenderung 'menjaga jarak' dengan dunia luar, menyaring semua informasi yang datang dari luar kemudian menelaah dan memberi makna untuk dipahami. Kemampuan berpikir analitis akan membantu kita melakukan penelitian, pendalaman, pembandingan data atau informasi kemudian menarik kesimpulan atau rekomendasi yang berguna untuk mengambil keputusan atau tindakan.
Diletakkan dalam perspektif penjualan, jelas sangat penting kemampuan berpikir analitis ini. Kalau kita melihat dari sudut pandang pembeli, maka pertama pembeli memiliki banyak pilihan, tidak hanya produk yang kita tawarkan saja. Dalam hal ini saking banyaknya pilihan, pembeli sampai bingung membedakan antara satu penawaran dengan penawaran yang lain. Dan kita tahu dalam keadaan bingung, pembeli tidak mungkin mengambil keputusan, selain berkata, 'Baik, saya pikir-pikir dulu...'
Kemampuan berpikir analitis akan sangat membantu seorang penjual untuk menyaring semua informasi mengenai produk pesaing, kemudian mengelompokkan berdasarkan kategori produk tersebut apakah pada kelas yang sama dulu. Selanjutnya dari kelas produk yang sama, penjual akan bisa membantu pembeli untuk membandingkan produk yang ditawarkannya berdasarkan manfaat yang ada produk tersebut, kemudahan membeli, layanan purna jual, harga, serta hubungan yang terjalin antara penjual dan pembeli. Dengan adanya informasi yang lebih sistematis, pembeli akan merasa nyaman & percaya diri untuk mengambil keputusan.
Selain menghadapi banyaknya pilihan, seorang pembeli juga selalu berhadapan dengan soal waktu (timing), apakah sekarang saat yang tepat untuk membeli. Tentu bagi seorang penjual sekarang adalah saat terbaik. Tapi sekali lagi kita perlu berpikir dari sudut pandang pembeli, yang memiliki pertimbangan secara internal mungkin mereka masih berpikir soal prioritas, dari eksternal, terlintas jangan-jangan sebentar lagi akan ada tawaran diskon atau model yang lebih menarik.
Kembali, penjual dituntut untuk bisa memberikan argumen yang analitis bagi pembeli untuk mengambil keputusan. Pertimbangannya tentu tidak bersifat hitam-putih, tetapi plus-minus. Membeli sekarang ataupun nanti ada plus-minusnya, kemampuan analitis seorang penjual akan bisa menonjolkan sisi plus bagi pembeli untuk membeli sekarang tanpa ada unsur mengelabui.
Pertimbangan lain yang kadang dipikirkan pembeli selain faktor persaingan dan saat yang tepat, juga adalah soal pembiayaan. Sudah umum bahwa hampir semua pembelian bisa dilakukan melui kredit, mulai dari ponsel sampai rumah atau mobil selalu tersedia fasilitas kredit dari berbagai sumber lembaga pembiayaan dan penerbit kartu kredit. Sekali lagi sangat penting kemampuan berpikir analitis dari penjual untuk membantu pembeli mendudukkan masalah tawaran pembiayaan ini secara proporsional agar bisa mengambil keputusan secara bijak.
Seorang penjual harus bisa menganalisis apa saja & berapa biaya yang harus ditanggung pembeli ketika mengambil kredit, tidak saja daris sisi bunga pinjaman, tapi juga biaya administrasi, atau asuransi. Kemudian bagaimana sanksi yang ada bila terjadi keterlambatan pembayaran angsuran, selain denda, adakah pengaruhnya bagi nama baik atau reputasi pembeli. Jangan sampai pembeli tidak mengetahui bahwa dari keterlambatan pembayaran angsuran yang terjadi bisa merusak kredibilitasnya di dunia usaha yang telah dibangun bertahun-tahun. Tugas dan kewajiban penjuallah untuk menyampaikan semua pertimbangan tersebut secara analitis.
Kemampuan berpikir analitis merupakan salah satu kekuatan alami seorang introvert. Jadi manfaatkan sebaik-baiknya kekuatan alami ini dalam profesi penjualan. Bill Gates dan Warren Buffet adalah contoh orang-orang introvert dengan kemampuan berpikir analitis yang sangat tinggi. Sukses mereka juga antara lain karena kekuatan alami ini.
Selamat berakhir pekan dan silakan berbagi pendapat atau komentar.
No comments:
Post a Comment