Friday, August 14, 2015

Orang Introvert Bertanya (2)

 

Seni Bertanya dan Kepribadian Orang Introvert

 

Kembali pada teori kepribadian orang introvert sebagaimana ditulis oleh Marti Olsen Laney (The Introvert Advantage) atau Sylvia Loehken (Quiet Impact), maka dalam hal bertanya ini orang introvert memiliki kekuatan sekaligus kelemahan. Sehingga kalau kita menemukan kesulitan untuk mengajukan pertanyaan, maka itu berarti aspek kelemahan yang lebih menonjol dari kekuatan. Dan mungkin tiap situasi akan berbeda, artinya 'kesulitan' bertanya akan terjadi pada situasi rapat, seminar, atau pelatihan yang melibatkan banyak audiens. Sedangkan dalam percakapan satu-satu  kesulitan bertanya tersebut tidak dialami oleh orang introvert.

Kekuatan alami seorang introvert dalam hal bertanya ini terletak pada kemampuannya berpikir analitis dan kebiasaannya untuk berpikiir sebelum berbicara. Kedua hal ini merupakan modal utama untuk merumuskan pertanyaan yang berbobot. Akan tetapi orang introvert memiliki kelemahan dalam hal bertanya ini yaitu kecenderungannya untuk menghindari lingkungan yang ramai, banyak audiens, dan lebih menyukai percakapan satu-satu atau kelompok kecil.

Ditambah lagi dengan sifat orang introvert yang cenderung berhati-hati, maka ketika berada di tengah audiens yang banyak, orang introvert menjadi ragu-ragu untuk mengangkat tangan dan bertanya. Pertama, hal ini akan mengundang perhatian dan mengarahkan sorotan kepada dirinya, situasi yang tidak disukai orang introvert karena akan menjadi stimulasi yang berlebihan. Kedua, ada keraguan yang berkelindan saat akan mengajukan pertanyaan:

  • Apakah pertanyaan ini berbobot?
  • Bagaimana kalau ternyata audiens/pembicara menganggap sebagai pertanyaan & penanya yang 'bodoh'?
  • Apakah pertanyaan ini relevan dengan materi yang disampaikan?
  • Bagaimana kalau audiens/pembicara menganggapnya tidak menyimak materi sebelumnya?
  • Apakah rumusan pertanyaan ini mudah dipahami oleh pembicara?
  • Bagaimana kalau pembicara minta untuk mengulang pertanyaannya sehingga perhatian akan makin terpusat kepada dirinya?
Pikiran-pikiran inilah yang dapat menghambat seorang introvert untuk bertanya dan membuatnya stres. Sehingga akhirnya mereka  memilih diam melewatkan kesempatan untuk bertanya. Padahal ada cara mudah untuk mengatasi masalah ini. Prinsipnya adalah mari kita fokus pada kekuatan kita, bukan pada kelemahan.

Artinya dengan kekuatan berpikir analitis dan kehati-hatian dalam berbicara yang dimiliki orang introvert, maka hal ini akan menjadi modal dasar untuk mengajukan pertanyaan. Selanjutnya untuk mengatasi berbagai keraguan sebelum bertanya, maka tuliskan dulu kata demi kata dari pertanyaan yang akan diajukan dan tuliskan beberapa pertanyaan sekaligus. Bukankah menulis juga merupakan kekuatan alami orang introvert?

Resep 'lakukan persiapan sebaik-baiknya' ini juga dianjurkan oleh Nancy Duarte dalam artikelnya di HBR, "Make Public Speaking Less Scary" (4/8/15). Intinya untuk mengatasi kegugupan atau stres saat melakukan presentasi atau berbicara di depan umum, maka lakukanlah persiapan sebaik-baiknya. Dalam hal bertanya, persiapan yang sebaik-baiknya adalah menuliskan kata demi kata pertanyaan yang nanti bisa dibacakan. Sehingga kita tidak akan gugup karena lupa rumusannya atau khawatir pembicara tidak bisa menangkap maksud pertanyaannya. Karena dengan menuliskan kita bisa memeriksa rumusan kata atau kalimatnya, menyunting dan memperbaiki bila perlu, serta membaca dalam hati sekiranya sebagai pembicara untuk menguji apakah pertanyaan itu sudah cukup jelas maksudnya.

Selamat mencoba dan berbagi pengalaman pribadi dalam hal bertanya ini. Kita akan perdalam lagi dalam blog berikutnya mengenai jenis-jenis pertanyaan yang bisa diajukan.






No comments:

Post a Comment